Menu
Catatan Seorang Ibu Dua Anak

Mengenal Edukasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi Remaja

Mengenal Edukasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi Remaja
Live Webinar #RuangPublikKBR

Sebagai orang tua dijaman now memiliki banyak tantangan terkait pendidikan adalah sebuah keniscayaan alias tak bisa dihindarkan. Perkembangan teknologi membuat semua akses berita terbuka tanpa batas, baik yang umum sampai yang tabu semuanya bisa diakses dengan leluasa.
Kemarin saya baru saja mengikuti sebuah webinar dari NLR Indonesia melalui #RuangPublikKBR yang membahas topik Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas

Semua Punya Hak

OYPMK adalah singkatan dari Orang yang pernah Mengalami Kusta, dimana mereka dan keluarganya masih seringkali mendapatkan diskriminasi dari khalayak ramai. Begitu juga bagi para penyandang Disabilitas yang masih juga ada masyarakan yang menyepelekan hak-hak mereka, sehingga seolah menjadi kaum yang termarjinalkan.

Salah satu hak bagi OYPMK dan remaja disabilitas adalah hak untuk mendapatkan kesehatan seksual dan reproduksi sebagaimana manusia yang lainnya. Masyarakat masih mengira bahwa mereka dianggap tidak mampu untuk diajari tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) sehingga rentan mengalami pelecehan seksual.

Webinar Edukasi HKSR

Berawal dari paparan diatas, maka perlu edukasi tentang hak tersebut terus perlu dilakukan secara masif agar menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Dalam Webinar Edukasi Hak Kesehatan dan Reproduksi Bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas yang bisa diakses live webinarnya di channel Youtube Berita KBR ini menghadirkan para nara sumber yang berkompeten dibidangnya.

Webinar Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas diadakan pada:
Hari: Rabu, 25 Mei 2022
Waktu: Jam 09.00 – 10.00 WIB
nara sumber:

  • Nona Ruhel Yabloy, Project Officer HKSR, NLR Indonesia
  • Westiani Agustin, Founder Biyung Indonesia
  • Wihelimina Ice, Remaja Champion Program HKSR

Fakta di Lapangan

Remaja mengalami masa pertumbuhan dari usia anak menuju dewasa yang membentuk setiap sosoknya menjadi unik. Masa ini biasa disebut sebagai masa pubertas, yang bisa menjadi masa-masa menantang sekaligus membingungkan dalam kehidupan remaja mana pun. Jika remaja tersebut memiliki ragam disabilitas maupun OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta), pubertas dapat lebih menantang tidak hanya bagi remaja itu sendiri namun juga keluarga, lingkungan, guru serta pendampingnya.

Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi khususnya bagi remaja masih merupakan hal tabu untuk diperbincangkan di ranah publik. Padahal, Hak kesehatan seksual dan reproduksi merupakan hak bagi setiap orang tak terkecuali orang yang pernah mengalami kusta dan penyandang disabilitas.

Pendapat para Ahli

Dalam webinar tersebut banyak sekali paparan yang disampaikan, persepsi mengenai mereka akan tahu sendiri itu tentu tidak benar terutama untuk penyandang disabilitas dan OYPMK. “Mereka perlu tahu tentang menstruasi maupun mimpi basah karena mereka bisa menjadi korban kekerasan maupun pelecehan. Nah, ketika sudah paham tentang haknya tentu bisa melakukan perlindungan atas dirinya,” papar Nona Ruhel Yabloy.

“Selain itu, ternyata ada masalah period poverty, dimana perempuan masih banyak yang belum dapat pemahaman hak menstruasi sehat sehingga Biyung Indonesia lakukan edukasi juga tentang masalah tersebut”, papar Westiani yang notabene adalah Founder Biyung Indonesia.

My Body is Mine

My Body is Mine merupakan proyek yang diinisiasi NLR Indonesia buat tingkatkan kapasitas pemahaman hendak HKSR kepada anak muda dengan disabilitas serta mendesak tersedianya layanan kesehatan yang ramah anak serta anak muda disabilitas di Nusa Tenggara Timur. Buat aktivitas ini NLR Indonesia menggandeng 5 mitra mitra organisasi, Mari Indonesia, SanKita, St. Damian, PHDF, serta Bunda Anfrida.

Dalam aktivitas My Body is Mine sebanyak 364 anak muda belajar menimpa KHSR, 242 di antara lain anak muda dengan disabilitas serta OYPMK. Sebanyak 6 SLB, 2 SMP inklusif, 2 desa ikut serta dalam penyadaran HKSR, serta sebanyak 75 guru, 150 orang tua, 86 petugas puskesmas, 23 penjaga menjajaki aktivitas bimbingan tentang HKSR. Dari situ terpilih 2 anak wanita buat mewakili kelompok disabilitas berdialog HKSR dalam International Conference Indonesia Family Planning Reproductive Health( ICIPRH 2019). Serta salah satu dari anak wanita tersebut ialah Wihelimina Ice.

Program HKSR, My Body is Mine ( Gambar: Dok. NLR Indonesia)
Program HKSR, My Body is Mine ( Gambar: Dok. NLR Indonesia)

Dikala itu Ice, demikian dia disapa merupakan seseorang siswa dengan disabilitas dari SMPN 4 Boleng, Ice, diseleksi buat awal kalinya berpartisipasi dalam ICFPRH 2019. Ice mewakili kanak- kanak dengan disabilitas dalam tahap konferensi bersama- sama dengan anak muda yang tidak difable. Dalam presentasinya, Ice mengatakan,“ Kita selaku kanak- kanak dengan disabilitas pula mempunyai hak yang sama buat mendapatkan pembelajaran kesehatan reproduksi serta seksualitas.” Statment ini menegaskan seluruh wisatawan yang muncul, paling utama pemerintah buat lebih sadar penuhi hak- hak kanak- kanak dengan disabilitas.

Keterlibatan Ice dalam ICFPRH 2019 mempunyai akibat mendalam pada keluarga, sekolah, serta kehidupan pribadinya. Ice yang lebih dahulu salah satu korban bullying dari orang- orang di sekitarnya serta senantiasa diremehkan sebab disabilitas yang dimilikinya. Saat ini, dia jadi siswa berprestasi di sekolah pula panutan untuk sahabat serta komunitasnya. Ice jadi lebih yakin diri pula berani buat berdialog tentang hak- hak anak dengan disabilitas di sekolah. Orang tua serta area sekitarnya juga terus menjadi sadar hendak berartinya kebutuhannya hendak data serta akses HKSR

Kesimpulan

Untuk menyampaikan tentang Edukasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi Remaja ternyata tidak terbatas harus minimal usia berapa idealnya seorang anak mendapatkan pendidikan. Karena pemahaman setiap anak itu berbeda, maka bagi remaja perlu mengetahui Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, termasuk bagi OYPMK dan juga remaja disabilitas. Bagaimanapun juga, dari keturunan mereka kelak juga akan mencetak generasi penerus bangsa ini.

Semoga Bermanfaat.

 304 total views,  3 views today

Print Artikel ini

Respon (10)

  1. Tantangan bangeet dah punya anak remaja. Ngobrolin sesuatu harus pelan2, lemah lembut dan pendekatan sendiri.

    Bagus bener ada edukasi soal ini ya. Ngga cuma remajanya, orang tuanya juga perlu paham soal ini.

    Semoga kita semua diberi kesehatan, aamiin….

  2. Senang sekali saat tahu Ice jadi lebih percaya diri dan menjadi siswa berprestasi setelah mengenal program ini. Memang penting sekali ada edukasi hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi remaja seperti ini ya

  3. Adanya program My body is mine tentunya buat para remaja bisa lebih memahami HKSR dengan baik. Semoga terus berkelanjutan sosialisasi dari NLR Indonesia

  4. Sepakat, soal seksual dan reproduksi ini kan sesuatu yang alami dan dialami setiap makhluk hidup, jadi walau penyandang disabilitas ataupun OYPMK memiliki hak yang sama dengan orang normal untuk memperoleh edukasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi

  5. Ruang Publik KBR emang selalu oke ya
    karena menjadi subscribers-nya saya sering menyimak

    salah satunya tentang kampanye penderita kusta yang sering dilupakan keberadaannya
    Padahal mereka punya hak yang sama
    termasuk edukasi kesehatan seksual yang kerap diabaikan dengan alasan tabu

  6. Duhh setuju banget nih, semua anak wajib mendapat edukasi tentang kesehatan seksual terlepas dari latar belakangnya, soalnya ini pengetahuan dasar yang sangat penting.

  7. Soal kapan seorang anak mendapatkan hak kesehatan seksual dan reproduksi, memang ga ada patokan minimal ya mbak. Kalau di sekolah anak saya, edukasi tersebut sudah diberikan sejak kelas 4 SD, sebagai persiapan saat mereka mulai haid yang rata-rata mulai kena di usia 11-12 tahun (kelas 5 SD). Edukasinya tiap minggu di sesi khusus yang namanya keputrian. Jadi mereka belajar semua hal, dari yang sepele seperti cara memakai pembalut, berapa kali ganti pembalut, bersiinya gimana, dll.

    Semoga melalui program ini para remaja dapat lebih percaya diri dan berprestasi ya mbak. Aamiin

  8. Di tengah sangat mudahnya kita mengakses informasi seperti sekarang memang rasanya kita harus melakukan edukasi urusan seksualitas dan reproduksi dengan baik ke anak dan adik-adik. Karena khawatir mereka mendapatkan informasi yang kurang tepat melalui internet. Jadi, kita bisa mencegahnya sejak dini.

  9. Pendidikan kesehatan seksual bagi remaja ini penting ya diberikan sejak usia akil balik soalnya sekarang pengaruh apapun bebas seliweran takutnya kurang literasi kesehatan seksual nih remaja kita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Maaf Konten ini dilindungi Hak Cipta (Copyright), tidak perlu di Copy! Terimakasih!